Thursday, March 15, 2012

Home Schooling

Home Schooling?? Beneran nih?
Iya, sejak awal November 2011, Sekar resmi homeschool, alias belajar di rumah.
Kenapa? Apa sistem pendidikan di sana kurang bagus buat Sekar? Apa kamu ingin sesuatu yg lebih buat Sekar? Bagaimana caranya? Dan beberapa pertanyaan lain yg selalu ditanyakan oleh teman dan keluarga. Wajar sih karena mereka peduli dan ingin tahu juga kan.
Sebenarnya ini keputusan sangat berat buat kami, khususnya buat aku pribadi. Lebih berat dari memutuskan menikah dulu. wkwkwkkwk  Sampai-sampai aku tulis sebagai status di FB dan teman-teman mengira aku keberatan buat hamil lagi hi..hi..hi... Kalau hamil mah kami sudah mendambakannya bertahun-tahun, cuma belum diijinkan Tuhan saja saat itu. Cerita tentang kehamilanku di lain bab ya....
Mohon maaf sebelumnya kalau dalam ceritaku nanti aku terkesan melebihkan anak sendiri. Aku berusaha menuliskan apa adanya keadaan Sekar tanpa bermaksud sombong.
Ceritaku bermula dengan betapa bahagianya kami dikaruniai Sekar, seorang anak dengan banyak potensi. Memang sampai umur 3 thn belum bisa ngomong, dan terkesan nggak bisa apa-apa. Tapi begitu dia ngomong segalanya berubah drastis. Segala potensinya muncul termasuk potensi ngeyel dan suka protesnya. hi..hi..hi.. Kami sering dibuat terkaget-kaget dengan hal-hal baru yg berhasil dikuasainya, termasuk kemampuan membacanya yg tiba-tiba muncul ketika dia berusia 4 tahun. Kalau di Indonesia pasti nggak kaget ya karena sejak di TK mereka diajari membaca. Lha kalau disini boro-boro, mereka baru diajari mengenal huruf, dan kami sendiri tidak pernah sekalipun mengajar dia membaca dengan alasan takut dibilang mengekploitasi anak. Yang aku lakukan hanya membaca bersama sejak dia masih bayi, itupun sering-sering buku bahasa Indonesia. Setelah membaca lalu kemampuan logika matematikanya muncul & berkembang pesat, ditambah ide-ide ngayalnya yg kadang terlalu aneh untuk anak seusianya. Intinya Sekar kelihatan terpuaskan, gembira, aktif, dan gampang diajak kerja sama.
Cerita berganti, ketika Sekar menginjak TK dan kami memindahkan dia ke public school dengan alasan supaya dia bergaul dengan segala kalangan. FYI sekolah lamanya sekolah swasta yg cukup mahal, yg tentu saja punya golongan orang tertentu juga, kami mau dia bisa membaur dengan segala lapisan. Public school (sekolah pemerintah/negeri) kota kami ini sangat bagus dengan gedung besar, fasilitas lengkap (lebih engkap dari sekolah lamanya), banyak guru bagus, dan gratis pula.  Mayoritas dan hampir semua orang menyekolahkan anak mereka ke public. Maka nggak heran kalau satu angkatan, misalnya kelas 1 saja, ada 7 kelas, dan masing-masing kelas minimal ada 17 orang. Jadi kelas satu saja mereka punya sekitar 120 siswa, banyak banget kan. Mereka punya jadwal tertentu di dalam kelas mereka sendiri (home room) bersama wali kelas lalu berpindah-pindah ke materi-materi khusus dengan guru khusus yg berbeda lagi. Selain itu pas makan siang dan jam istirahat mereka digiring ke kantin sekolah atau ke park dan bergabung dengan ratusan murid lainnya. Buat anak lain mungkin tidak jadi masalah dan terbukti bertahun-tahun mereka punya program seperti itu. Tapi ceritanya lain buat Sekar-ku.
Awalnya Sekar sangat bahagia dengan sekolah barunya yang punya banyak teman dari berbagai kalangan & budaya. 2 bulan kemudian guru kelasnya mulai bilang kalau Sekar suka ngeyel. Lalu sebulan kemudian protesnya Sekar mulai menjadi dan berkembang ke menangis. Aku bingung juga harus jawab gimana ketika gurunya tanya apa yang biasa aku lakukan kalau Sekar tidak mau nurut perintah? Masalahnya kalau di rumah dia oke-oke saja kalau aku suruh, termasuk di sekolah lamanya yang nyaris tanpa masalah selama 2 tahun. Maka mulailah aku datang ke kelas lebih sering untuk bantu-bantu guru kelasnya sekalian melihat langsung dari dekat.
Hasil analisa pandangan mataku :
- Sekar terlihat bosan, saat itu mereka baru dikenakan huruf dan angka
- Sekar kebanyakan protes, terutama ttg hal-hal yg dia sudah tahu. Ini berhubungan dengan kepribadian Sekar yang nggak sabaran dan cenderung tidak flexible.
- Sekar mempunyai gaya berpikir yang berbeda dengan anak-anak lain, yg tentu saja sering menimbulkan kesalah pahaman bukan saja dengan temannya tapi juga dengan guru-gurunya.
- Sekar sering marah kalau pas angkat tangan ingin menjawab sesuatu tidak selalu mendapat giliran. Tentu saja kan guru harus juga memberi kesempatan kepada murid lain.
- Sekar mudah terpancing untuk terganggu, grogi, kuatir, terlalu gembira bergabung jadi satu ketika tiba-tiba bertemu dengan ratusan orang dalam satu ruangan. Ini ada hubungannya dengan sensory integration, terutama suara.
- Sekar perfectsionis dan sensitif, kalau melakukan kesalahan meskipun kecil dia akan merasa dalam masalah besar.
Saat-saat TK akhirnya berlalu juga meski tidak mulus. Kelas satu dimulai dengan strategi baru dari konselor sekolah. Sekar dipasangkan dengan guru kelas yang katanya paling berpengalaman dengan anak-anak bermasalah. Selain itu Sekar dimasukkan ke program kelas anak berbakat. Di kelas satu ini bukannya jadi tambah membaik, keadaan malah jadi tambah memburuk. Mereka punya standard umum yaitu untuk anak-anak yang tidak patuh caranya dengan mendisiplinkan mereka. Buat anak lain cara ini sangat ampuh, tapi tidak buat Sekar. Dengan Sekar ketika dia mulai punya ide beda kita harus punya banyak waktu untuk bicara memberikan pengertian kenapa ide kita berbeda dengan dia, minimal 15 menit. Hasilnya selalu bagus, karena hal itulah yang selalu aku lakukan dengan dia sejak kecil. Tapi guru kelas tentu saja tidak punya banyak waktu untuk satu murid saja kan. Nah solusinya setiap Sekar mulai ngeyel dia dikirim ke ruang konselor. Masalah utamanya sebenarnya antara Sekar dengan gurunya tapi penyelesaiannya dengan orang lain (konselor). Nah ini menurut analisaku membuat alam bawah sadar Sekar tidak terpuaskan dan akhirnya meledak menjadi masalah baru. Alih-alih menjadi lebih baik ketika ditegur, Sekar berubah menjadi tak terkontrol (missbehave) ketika dia melakukan kesalah meskipun kecil. Dia berubah tak ubahnya seperti macan liar kecil yang marah, super marah dan tidak takut sama siapapun. Dia hanya bisa diam dan kalem lagi ketika aku atau bapaknya datang, seketika diam. Aneh kan tapi itu yang terjadi. Kepala sekolahnya sampai bilang kalau selama 20 tahun karirnya di sekolah dia tidak pernah ketemu anak seperti Sekar.
Sementara Sekar tidak boleh sekolah selama 1 minggu sampai mereka menemukan formula baru untuk menghadapi Sekar. Segeralah rapat penting digelar bersama tentu saja orang-orang penting dari distrik untuk membahas Sekar. Kami harus menandatangani dokumen yang menyatakan kalau kami menyetujui mereka melakukan program khusus buat Sekar yg sebenarnya intinya menyetujui kalau Sekar dissable alias cacat. Perasaan kami campur-campur tapi kami memilih tidak membela diri ketika mereka mengadili kami. Toh tidak ada gunanya, yang paling penting buat kami bagaimana kedepannya buat kebaikan Sekar. Tidak berhenti sampai di situ, mereka datang ke rumah kami, melihat dengan mata kepala sendiri sehari-harinya Sekar di rumah dan bagaimana sih keadaan rumah tangga kami. Sebenarnya suatu prosedur yang normal karena yg mereka pikirkan adalah keselamatan anak dan di Amerika banyak anak diabuse orang tuanya sendiri. Tapi buat aku pribadi rasanya seperti ditembak tepat di jantung dengan mata masih melek ketika mendengar mereka mau mengunjungi rumahku. Semalaman nangis, tapi aku percaya ini bukan kesalahanku, aku sudah melakukan yang terbaik buat Sekar. Setelah 2 orang spikolog melihat keadaan kami di rumah, sedikit banyak mereka mulai percaya padaku. Berbagai test dilakukan atas Sekar termasuk membawa ke psikiater. Dokter menyarankan obat untuk memperoleh hasil cepat yang tentu saja kami tolak. Kami memilih konseling buat Sekar. Hasil test dinyatakan kalau Sekar tidak fleksibel, bahasa kerennya lack flexibility atau mood dissorder. Tapi aku pribadi melihatnya dia punya masalah dengan sensory integration terutama sensor terhadap bunyi-bunyian keras. Selain itu hasil test lainnya kemapuan bahasa & kepandaiannya saat itu (Sekar masih 6 thn) seperti anak usia 13 1/2 thn, nggak heran kalau dia selalu bilang bosan di kelas. Guru khusus sengaja diberikan khusus buat Sekar untuk selalu menemani dia di kelas, tapi hanya bertahan 3 hari, hari ke 4 Sekar menolak dengan keras. Aku menawarkan bantuan untuk menjadi pendamping khusus tapi tentu saja ditolak oleh sekolah dengan alasan tidak pernah ada orang tua menjadi guru khusus untuk anaknya sendiri. Aku ngotot dengan alasan aku cukup pintar, meskipun tidak punya latar belakang pendidikan khusus tapi aku seorang Engineer, dan hal-hal seperti ini tidak pernah terjadi di rumah dan Sekar akan dalam sekejap tenang ketika aku datang meskipun sebelumnya dia sedang marah besar dan tidak terkontrol. Bener-bener kalau ingat aku pernah berkata sombong seperti itu aku jadi tertawa dan malu sendiri. wkwkwkwk Itu satu2nya kata-kata pembelaan diriku selama berkutat dengan masalah itu. Ya begini ini naluri seorang ibu untuk melindungi anaknya.
Berkat kata-kata sombongku itu akhirnya aku diijinkan menjadi guru pendampingnya Sekar sejak September 2010 sampai akhir Oktober 2011. Setahun lebih tanpa cacat aku mendampingi dia. Aku dapat jalur khusus bisa keluar masuk sekolah tanpa harus melapor, ditanya apa ideku buat Sekar, dan bahkan aku ditawari digaji. Tentu saja aku menolak, masak buat anak sendiri pakai hitung-hitungan. Tentu saja dapat kepercayaan seperti itu tidak mudah, mengingat kepala sekolah Sekar itu termasuk orang yang sulit. Beberapa kali aku ditest tetang keobyektifitasanku menghadapi Sekar. Yang paling sulit guru kelasnya Sekar yang senantiasa memberi hard time dan ngetest emosiku dan Sekar. Tiap hari aku cuma bisa berdoa agar Tuhan melembutkan hati Sekar sehingga hari itu berjalan lancar. Berangsur-angsur kepercayaan diri Sekar mulai terlihat, bisa lebih mengontrol emosi, lebih relaks, meskipun masih sering terjadi insiden, tapi tidak separah kemarin-kemarin. Dan aku pun mulai menjaga jarak dengan Sekar dengan mengurangi jam pendampinganku ke dia berangsur-angsur sampai hanya mendampingi 1 jam saja sehari, meskipun aku tetap datang ke sekolah dan membantu kelas lain. Tidak sia-sia aku harus datang tiap hari ke sekolah dari pagi sampai sore jam 3. Kelas konselingpun sudah tidak diperlukan lagi. Benar-benar bersyukur kami.
Naik ke kelas dua, aku pikir episode drama sedih berakhir setelah sebelum mulai sekolah lagi kami berlibur ke Indonesia sepanjang summer. Ternyata babak baru mulai lagi. Tapi disini ceritanya sedikit beda. Babak baru ini Sekar mulai percaya diri dan mulai malu dikawal oleh ibunya. Apa-apa selalu bilang aku bukan bayi lagi, aku tidak perlu bantuan. Tapi aku masih melihat gayanya yang nervous ketika mulai memasuki halaman sekolahnya. Tubuhnya tiba-tiba berubah jadi kaku ketika turun dari mobil. Sangat merasa bersalah ketika melakukan kesalahan kecil ditambah gaya protesnya menjadi lebih kuat. Semua masalahnya tetap berada di Sekar meski porsinya mengecil. Masalahnya sekarang dia mulai menolak aku, tapi dia tetap butuh bantuan sekali-kali. Akhirnya pihak sekolah mencarikan guru khusus baru yang bukan aku. Tapi kenyataannya secara bawah sadar Sekar menolak, dan terjadilah berbagai macam masalah lagi, bahkan protesnya kali ini lebih keras. Pihak sekolah memulai lagi dari awal tetapi tidak ada kemajuan sama sekali. Aku seperti dejavu melihat Sekar menangis seperti macan lagi. Aku langsung berpikir untuk segera menghentikannya sebelum semuanya bertambah parah, atau kembali ke titik awal lagi. Kami khususnya aku dengan tegas saat itu memutuskan mengeluarkan Sekar dari sekolah dan memutuskan untuk mendidiknya sendiri di rumah. Pihak sekolah meminta aku memikirkan lagi ttg keputusan itu dan kalau memang keputusanku sudah bulat mereka dengan senang hati menawarkan bantuan misalnya dengan sekolah 1/2 hari saja. Tanggapan mereka sangat positif.  Aku tahu mereka khususnya kepala sekolah mau yang terbaik buat Sekar, tapi aku lebih memikirkan Sekar, dia akan merasa sedih dan beda dengan teman-temannya yang lain kalau masih sekolah disana dan hanya masuk 1/2 hari.
Sebenarnya ide homeschooling ini sudah pernah aku dan bapaknya Sekar pikirkan jauh-jauh hari. Tapi kami merasa tidak cukup skill, tools, dan keberanian untuk memulainya. Terutama karena Sekar sangat tidak setuju. Pernah suatu hari setelah salah satu hari buruknya di sekolah kami bicara tentang homeschooling dengan Sekar. Saat itu Sekar setuju. Tapi apa yang terjadi, sebelum tidur dia nangis tanpa suara dan tanpa marah selama satu jam menyesali kenapa dia tidak bisa mengontrol diri di sekolah & dia akan kangen dengan teman2nya sekolah. Ibu mana sih yang tega melihat anaknya sedih begitu. Maka aku segera bilang kalau besok dia boleh sekolah lagi. Begitu terus maju mundur tentang keputusan ini, makanya aku bilang sebelumnya kalau masalah ini adalah masalah terberat dalam hidupku. Tapi hari itu tekadku sudah bulat. Berbekal support dari suami tercinta aku memutuskan mengeluarkan Sekar dari sekolah. Aku keraskan hatiku ketika menemani Sekar menangis tanpa suara lagi sebelum tidur. Benar-benar seminggu itu minggu terberat dalam kehidupan kami. Setelah selesai menemani Sekar tidur tentu saja tidak tahan akhirnya kami menangis juga termasuk suami. Aku bersyukur semua berakhir dengan baik. Sekar jadi lebih tenang dan bahagia sekarang. Proses panjang juga tidak langsung berakhir baik mengingat keputusanku saat itu mendadak banget tanpa tools & skill. Dan tentu saja protes dan gaya penolakan Sekar awal-awal homeschooling merupakan tantangan terbesarku. Cerita tentang awal homeschooling kami sampai sekarang akan aku tulis di lain cerita ya.....

Saturday, March 10, 2012

Prol Tape


Description:
Maaf sudah lama banget ya tidak update resep. Pas lihat mbak Rachmah posting prol tape di FB kok mendadak ngiler. Mana sedang sakau 4 bulan nggak minum teh melati Indonesia. Lengkap sudah penderitaanku sebagai bumil. Sampai akhirnya pasang status di FB "Barang siapa mau bagi teh melati Indonesia kepadaku kalau perempuan akan aku angkat saudara, kalau laki-laki akan aku tukar tambah sama suamiku." wkwkwk payah deh!! padahal sebenarnya bisa beli online, tapi berhubung kuatir dengan caffeinnya kita nggak niat beli. Akhirnya ada teman dari Texas kirim teh Indo, aduh senengnya!! Langsung deh bikin tape, tunggu 3 hari lalu bikin prol tape. Eh... untung yg bagi kemarin teman perempuan, jadi suamiku tersayang masih utuh milikku :p

Ingredients:
Resep asli dari mbak R :

150-175 gr Tape, buang seratnya, haluskan
1 sachet susu kental manis (sekitar 45gr )

4 butir telur utuh
75gr Gula Pasir

75 gr tepung terigu
10 gr tepung maizena
15 gr susu bubuk

75 gr Butter
25 gr Minyak Zaitun (aku pakai minyak canolla)

Keju Cheddar, parut
Kismis



Directions:
1. Haluskan tape dengan menggunakan sendok, beri susu kental manis, campur merata, halus, teksturnya kental tapi tidak padat.
2. Kocok telur dan gula pasir hingga kental mengembang, berjejak. Setelah itu masukkan tape secara bertahap. Bagi menjadi 2 bagian, masukkan bagian pertama, aduk dgn mixer kecepatan rendah, pelan aduk merata, masukkan bagian kedua, mixer pelan merata (jangan terlalu lama mengaduknya, sebentar saja asal merata). Matikan mixer.
3. Masukkan bahan kering(tepung terigu, susubbk, maizena), secara bertahap juga, sambil diaduk merata (ingat jangan terlalu lama jg agar adonan tidak turun banyak).

4. Lelehkan butter dan minyak zaitun, tuang dlm adonan cake, aduk rata.
5. Beri toping kismis dan keju cheddar.
6. Tuang di loyang ukuran 18X18X6/7cm (seperti biasa, alasi dulu loyang dengan kertas roti , poles mentega tipis/memakai kertas anti lengket), panggang dgn suhu 165 derajat celicus selama kurang lebih 25 menit atau hingga matang.

Friday, October 14, 2011

Zucchini, Mushroom and Smoke Mozzarella Quiche


Description:
Sejak nambah beban pekerjaan, aku jadi jarang banget santai di hari biasa. Alhasil jadi kangen banget mainan oven. Kalau masak sih tiap hari masak. Tapi kangen praktikum rese2 baru. Beginilah kalau cita2 jadi peneliti kandas he..he..he..
Kali ini aku coba Quiche. Resep diambil dari perpaduan resep "New New Orleans Cooking", by Emeril Lagasse and Jessie Tirsch dan majalah Cooking light yang selalu aku baca ketika menunggu Sekar kursus piano. Selain itu aku sesuaikan juga dengan lidahku yg tidak terlalu suka pork, makanya ham aku ganti daging cincang & smoke mozzarella sbg ganti sensasi smoke di ham. Selamat mencoba juga teman :)

Ingredients:
Kulit pie gurih :
1 1/4 cup tepung terigu serbaguna
2 sdt Emeril's Essence, resep dibawah
1/2 sdt garam
115 gr butter, potong dadu kecil
3-4 sdm air es jika diperlukan

Emeril's ESSENCE Creole Seasoning (also referred to as Bayou Blast)
2 1/2 tablespoons paprika powder
2 tablespoons salt
2 tablespoons garlic powder
1 tablespoon black pepper
1 tablespoon onion powder
1 tablespoon cayenne pepper
1 tablespoon dried oregano
1 tablespoon dried thyme

Isi :
2 sdm butter
1 sdm olive oil
1 bh bawang bombay potong halus
4 bh bawang merah potong halus
1/2 bh zucchini kuning, potong tipis-tipis
1/2 bh zucchini hijau potong tipis-tipis
1/2 bh paprika merah, potong tipis-tipis
2 bh bawang putih cincang halus
1 bh daun bawang iris tipis
1 bh seledri, cincang halus
8 bh jamur kancing ukuran besar, potong tipis (aku pakai portobella)
200 gr daging cincang
2 sdt daun thyme segar (kalau kering 1 sdt saja)
1 sdt garam
1 sdt merica putih bubuk (bisa pakai merica hitam)
1/8 sdt pala bubuk
1/2 cup heavy cream (bisa juga pakai susu cair)
6 butir telur
100 gr smoke mozzarella cheese (bisa pakai keju jenis lain)


Directions:
Isi :
Tumis bawang bombay dan bawang merah sampai harum, masukkan bawang putih cincang, aduk2 sampai matang.
Masukkan daging cincang, masak sampai berubah warna.
Masukkan garam, bumbu halus, dan sayuran, aduk2 sampai rata & matang.
Campur telur, heavy cream, kocok rata.
Campurkan dengan adonan isi dan keju. Tuangkan ke atas kulit pie. Panggang sampai campuran telur mengeras dan keju berwarna kekuningan/kecoklatan.
Hidangkan hangat dengan sambal botolan.

Kulit pie :
Campur semua bahan kecuali air di food processor, putar sampai adonan bergumpal2 kecil. Kalau tidak ada food processor bisa dicampur dimangkok besar, lalu potong2 adonan dengan pisau sampai adonan bergumpal kecil2. Kalau dirasa perlu ditambah air putar/aduk lagi sambil dituangi air es, asal tercampur saja, jangan terlalu lama memutarnya/ mengaduknya.
Pindahkan adonan keatas plastik bertepung, tipiskan bentuk lingkaran dgn diameter 9-10 inch. Simpan di dalam kulkas minimal 1 jam.
Taruh diatas loyang pie, bentuk pinggirannya, dan panggang selama 30 menit sampai kuning kecoklatan. Angkat sisihkan.


Sunday, May 8, 2011

My Decorated Cake




It's my passion. It's why I'm happy. Happy to watch them excited when I shared my beautiful cake.

Goi Cuon (Vietnamese Fresh Spring Rolls)


Description:
Dari dulu pengen banget coba buat makana khas Vietnam ini, tapi entah kenapa selalu saja tidak pernah kesampaian. Minggu lalu diniatin banget beli bahan-bahannya, tetap saja baru kesampaian hari ini. Menjelang mudik, boss ditempat kerja malah kasih kerjaan banyak banget. Memang kami mau mudik 2 bulan lebih nih he..he..he...
Sebelum bikin aku memprediksi, kalau cuma aku yang bakalan doyan, mengingat Sekar & bapaknya sulit makan sayur. Ternyata dugaanku keliru. Begitu kelar Sekar langsung nyomot 1/2, setelah coba makan minta nambah lagi sampai habis 4X1/2 he..he..he... Enak katanya, padahal sausnya pedes lho... Syukurlah, nambah satu lagi jenis makanan bersayur buatnya. Resep didapat dari berbagai sumber di Google dengan modifikasi sesuai seleraku.

Ingredients:
Udang bumbu :
24 bh udang ukuran besar
1/2 bh lemon, ambil airnya
1 bh bawang, haluskan
1/2 sdm kecap asin
1/2 sdm hoisin saus
garam dan merica secukupnya

8 lembar rice paper wrapper
50 gr soun, rebus tiriskan
4 lbr lettuce buang ruas bagian tengah daun, bagi 8 bh
1 ikat kecil daun ketumbar (cilantro)
1 ikat kecil basil
1 bh wortel, potong2 korek api panjang
1 bh ketimun, potong2 korek api panjang
1 bh bengkoang, potong2 korek api panjang

Saus :
50 gr kacang tanah goreng, haluskan
2 bh bawang putih, goreng
1 sdm minyak ikan
1 sdm cuka beras
1 cm jahe, geprek
4 sdm hoisin saus
cabai sesuai selera
garam & gula sesuai selera
100 ml air
wijen sangrai untuk hiasan

Directions:
1. Kupas udang, rendam dengan bumbu rendaman selama kurang lebih 1/2 jam. Panaskan wajan dengan sedikit minyak, masak sampai matang. Sisihkan.
2. Campur semua bahan saus diatas penggorengan. Masak sampai mendidih. Taburi wijen.
3. Ambil satu lembar rice paper wrapper, masukkan dalam air panas selama kurang lebih 5-10 detik. Rasakan kalau sudah agak lunak berarti siap diangkat. Jangan terlalu lembek, nanti gampang robek ketika membungkus. Letakkan diatas talenan.
4. Tata udang, ketimun, wortel, bengkoang, soun, cilantro, basil, dan lettuce diatas rice paper wraper yang sudah lembek tadi. Bungkus seperti membungkus lumpia (lipat bagian bawah, lalu bagian kanan dan kiri lalu gulung sisanya).
5. Sajikan dengan saus.

Wednesday, April 27, 2011

Stuffed Mushroom


Description:
Kami sedang mengurangi konsumsi daging nih... (baca ayam & binatang berkaki 4) Bukan karena sedang sakit tapi semata-mata demi menjaga kesehatan saja. Meski makanan dari sayuran doang, harus tetep berasa oke kan... Kalau aku sih memang dari kecil jarang makan daging, maklum ekonomi ketat he..he.. Lalu kebiaasan makan ini terbawa sampai dewasa. Jadi oke-oke saja nggak makan daging. Buat Sila suamiku agak susah meyakinkan dia kalau orang yg tidak makan protein hewani tetap sama pinternya dgn pemakan protein hewani. Padahal sudah terbuktikan kalau istrinya pintar meski jarang makan protein hewani wkwkwk mulai deh PD abisss.... Untungnya beberapa bulan lalu dia beli buku ttg body map. Setelah itu tiba-tiba dia mau mengikuti saranku tentang mengurangi protein hewani. Syukur deh... Aku sempat ngintip bukunya, wuiiih... gambar2 organ dalam tubuh kita terpampang detail. Horor!!!
Pilihan jatuh ke stuffed mushroom ala Italia dari acara Everyday Italian si cantik Giada De Laurentiis. Resepnya aku modifikasi sedikit dengan selera kami. Rasanya seperti rasa pizza!! Eh resepnya aku copy paste aja ya...... males translate :)

Ingredients:
1/2 cup Italian-style dried bread crumbs (aku nggak pakai)
1/2 cup grated Pecorino Romano. Aku pakai Italian 5 cheese (Mozzarella, Provolone, Romano, Asiago, & permesan chesee) yang aku taburkan diatas jamur yang sudah diisi.
2 green onion, chopped (daun bawang, iris tipis)
2 roasted red bel peppers, chopped (paprika merah yg dipanggang)
10 green olive, chopped
2 tablespoons chopped fresh Italian parsley leaves
1 tablespoon chopped fresh basil leaves (aku nggak pakai)
Salt and freshly ground black pepper
1/3 cup extra-virgin olive oil
28 large (2 1/2-inch-diameter) white mushrooms, stemmed (buang tangkainya)

Directions:
1. Preheat the oven to 400 degrees F.
2. Stir the bread crumbs, Pecorino Romano, garlic, parsley, mint, salt and pepper, to taste, and 2 tablespoons olive oil in a medium bowl to blend. (Kejunya aku tabur belakangan)
3. Drizzle a heavy large baking sheet with about 1 tablespoon olive oil, to coat. Spoon the filling into the mushroom cavities and arrange on the baking sheet, cavity side up. Drizzle remaining oil over the filling in each mushroom. 4. Bake until the mushrooms are tender and the filling is heated through and golden on top, about 25 minutes.
Serve.

Tuesday, April 26, 2011

Tiramisu


Description:
Pengen banget bikin Tiramisu sendiri yang rasanya persis aslinya. Tentu saja harus pakai alkohol. Buat teman-teman yang nggak boleh mengkonsumsi alkohol maaf ya, saya nggak tahu harus pakai bahan apa sebagai penggantinya. Tapi kalau di Indonesia banyak essence untuk pengganti rum & sejenisnya deh.
Resep aku dapat dari bukunya ibu temanku, waktu itu aku diminta tolong jaga suaminya yang habis operasi tulang belakang. Si ibu suka banget sama aku yang katanya telaten jadi bagi-bagi ilmu masaknya hi..hi... GR deh gue. Resep di buku ini tidak menggunakan lady finger chookies tapi pakai sponge cake yang tentu saja harus bikin sendiri. Agak ribet sih tapi rasanya muantap surantap hi..hi...
Selamat mencoba......

Ingredients:
Tiramisu by Nick Malgieri (Great Italian Dessert, 1990)

Espresso syrup :

1/3 cup sugar
1/4 cup water
1/2 cup very stong brewed espresso
1/4 cup Italian or other brandy or rum (meyers or bacardi)

Zabaione filling :

3 large egg yolks
1/3 cup sugar
1/3 cup sweet Marsala (paellegrino or Florio)
1/2 pound mascarpone, at room temperature
2/3 cup heavy whipping cream


Pan di Spagna (sponge cake) 9 or 10 inch (2 inch deep) round cake pan

4 large eggs, separated
1 tsp vanilla extract
3/4 sugar
1/2 cup all-porpuse flour
1/2 cup cornstarch
pinch salt

Decoration :

1 cup heavy whipping cream
unsweetened cocoa powder
Semisweet chocolate bar, shredded.

Directions:
Espresso syrup :
Combine the sugar and water in a saucepan and bring it to boil. Cool and stir in the espresso and brandy. (Aku rumnya aku rebus bersama air gula biar alkoholnya menguap karena Sekar ikut makan juga)

Zabaione filling :
1. Beat the egg yolk in the bowl of an electric mixer or another heat proof bowl and beat in the sugar and Marsala. Wishk over pan of simmering water until thickened. Remove and beat with a had mixer set at medium speed until cold.
2. Smash the mascarpone in a bowl with a rubber spatula until it is smooth. Fold in the zabaione. Whip the cream and fold it in.

Pan di Spagna (sponge cake)
1. Butter and line with paper the pan
2. In a medium mixing bowl, whisk the egg yolks with the vanilla. Whisk in half sugar and continue to beat until very light and frothy, about 5 minutes.
3. Combine the flour and cornstarch and sift once to aerate.
4. In clean dry bowl, beat egg whites with the salt until they hold very soft peak. Beating faster, add the remaining sugar in a very slow strem. beating until the egg whites hold a firm peak.
5. Pour the yolk mixture into the whites with a rubber spatula. Sift the flour and cornstarch over the eggs in 2 additions, folding them in gradually. Do not overmix the batter. Pour the batter into the prepared pan and smooth the top.
6. Bake at 350F for 30-40 minutes

Tiramisu :
1. Cut the pan di spagna into vertical slices about 1/4 inch thick. Place a layer of the slices in the bottom of a shallow 2-quart dish, such as a gratin dish, and soak with one-third of the syrup, using a brush. Spread with half the filling. Repeat with the pan di spagna, another third of the syrup, and the remaining filling. Place a last layer of pan di spagna on the top and soak with the remaining syrup.

2. Whipped the cream with the sugar until it holds its shape and spread it on the surface of the dessert. Decorate with cocoa powder & shredded chocolate bar. Refrigerate for several hours before serving.